Hari 28 Oktober, kita bangsa Indonesia mempertingatinya sebagai hari Sumpah Pemuda. Semangat unity on diversity ditanamkan sejak tokoh-tokoh pemuda mempersiapkan diri untuk membangun suatu sosok bangsa yang mandiri. Sistem ini oleh para pendiri bangsa dimanifestasikan dalam bentuk sumpah pemuda yang dideklarasikan jauh sebelum bangsa ini berhasil meraih dan mewujudkan kemerdekaannya, yaitu tepatnya pada tanggal 28 Oktober 1908 [1]. Para pemuda pada saat itu bertekad menjadikan pondasi semangat kesatuan dan persatuan di tengah keanekaragaman dan perbedaan untuk mewujudkan bangsa Indonesia yang kokoh dan dapat mengatasi aneka persoalan dan problema yang muncul, yang bersatu dan merdeka. Merdeka menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), artinya bebas dari penjajahan, berdiri sendiri, tidak tergantung pada orang/bangsa lain [2]. Indonesia Merdeka merupakan kesadaran bangsa Indonesia bahwa “kami adalah bangsa Indonesia” dan “kami tidak menerima lagi dijajah, dikuasai, dieksploitasi, dianggap manusia kelas dua yang belum dapat mengurus diri sendiri” [3]. Para pemuda menyatakan tekad diri dalam Sumpah Pemuda untuk mewujudkan Indonesia Merdeka.

Lantas apakah kita benar – benar sudah merdeka? Apakah kita sudah menjadi bangsa yang mandiri ? Apakah cita cita bangsa indonesia sudah terwujud? Berdasarkan pembukaan UUD 1945 pada alinea kedua terlihat bahwa cita-cita nasional bangsa Indonesia, yaitu negara Indonesia yang berdaulat, adil dan makmur [4]. Kedaulatan dan keadilan di negeri ini, bukanlah sesuatu yang dapat dinyatakan dalam suatu parameter angka ketercapaiannya. Mari kita lihat dari sudut pandang kemakmuran. Setidaknya ada empat parameter untuk menilai tingkat kemakmuran suatu bangsa, yaitu: (1) pendapatan perkapita, (2) koefisien gini (3) data kemiskinan, serta (4) indek pembangunan manusia (IPM) [5]. Pembangunan kualitas hidup bangsa Indonesia tergolong sangat rendah, dengan nilai IPM sebesar 0,689 yang berada di peringkat 113 dari 188 negara di dunia (berdasarkan penilaian UNDP).   Sekitar seperempat jumlah penduduk Indonesia (sekitar 65 juta jiwa) hidup hanya sedikit saja di atas garis kemiskinan, dengan pendapatan per bulannya (per kapita) kurang dari Rp.798.000 (standar Bank Dunia) [5]. Keadaan ini diperburuk dengan munculnya pandemi covid -19, yang bagaikan horor telah menyebar pada akhirnya membawa risiko yang sangat buruk bagi perekonomian dunia termasuk Indonesia. Dampak pandemi COVID-19 menyebabkan rendahnya sentimen investor terhadap pasar yang pada akhirnya membawa pasar ke arah cenderung negatif [6]. Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai tulang punggung perekonomian nasional juga terdampak secara serius tidak saja pada aspek total produksi dan nilai perdagangan akan tetapi juga pada jumlah tenaga kerja yang harus kehilangan pekerjaannya karena pandemi ini. Data dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM) menunjukkan bahwa pada tahun 2018 terdapat 64.194.057 UMKM yang ada di Indonesia (atau sekitar 99 persen dari total unit usaha) dan mempekerjakan 116.978.631 tenaga kerja (atau sekitar 97 persen dari total tenaga kerja di sektor ekonomi)[7]. Hal ini semakin memperburuk keadaan rakyat Indonesia, baik secara ekonomi, sosial bahkan mental sehingga menimbulkan krisis kepercayaan di berbagai lapisan masyarakat. Lantas apa yang harus kita lakukan ? Duduk diam dalam keterpurukan ? Mengeluh karena masalah ini terlalu besar untuk kita pecahkan ?

Masalah dampak covid-19 ini memang masalah yang luar biasa besar, tapi pemuda adalah agent of change [8]. Jika saat ini bangsa kita sedang terpuruk karena covid, maka pemuda bangsa ini harus bangkit. Pemuda harus jadi pelopor, pembangkit semangat, dan menjadi pemecah masalah bangsanya, karena kemajuan bangsa ini ada di pundak pemuda negeri ini. Lantas dari mana kita memulainya? Sedikit mengutip dari tokoh mayarakat Jawa Barat, Kyai.H. Abdullah Gymnastyar (Aa Gym), mari kita mulai dari diri kita sendiri, dari hal yang kecil dan dari sekarang. Mari kita berprasangka baik pada musibah yang Alloh turunkan pada kita. Alloh ingin melahirkan pemuda – pemuda Indonesia yang berkualitas, yang mampu memecahkan masalah bangsanya, yang akan menjadi pemimpin bangsa di masa depan. “Jalan pemimpin bukan jalan yang mudah, memimpin adalah jalan yang menderita” merupakan kutipan pernyataan dari Kasman Singomendimedjo, tokoh pemuda Muhammadiyah yang merupakan salah satu tokoh dibalik peristiwa Sumpah Pemuda [8,9]. Karena itu……Pemuda…Ayo Bangkit. Demi bangsamu !!!

Sumber : Klikmu.co

 

Daftar Pustaka :

Sayoga, B (2011), Merajut Kembali Komunikasi antar Budaya di Indonesia, Jurnal Komunikator, 3(2) : p.159 – 177.

Kbbi.web.id, Merdeka, https://kbbi.web.id/merdeka (diakses 26 oktober 2020)

Suseno, F.M.,(2018), Politik Identitas? Renungan Tentang Makna Kebangsaan, MAARIF Vol. 13, No. 2 p.7-13.

Zulfirman dan Manurung, RS. (2018), Pembukaan UUD 1945: Analisis Nilai Politik dan Nilai Hukum Indonesia, Jurnal IUS, Vol VI, No. 1, hlm 76 – 89.

Kompasiana.com, Negeri kita semakin tidak makmur, https://www.kompasiana.com/kalimana/5a2e794b5e13737a20764142/negeri-kita-semakin-tidak-makmur?page=all. ( diakses 26 Oktober 2020)

Nasution,DAD., Erlina dan Muda, I. (2020), Dampak Pandemi Covid-19 terhadap Perekonomian Indonesia, Jurnal Benefita 5(2) p.212-224.

Pakpahan, AK. COVID-19 dan Implikasi Bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, JIHI, hal. 59 – 64 DOI: https://doi.org/10.26593/jihi.v0i0.3870.59-64

Widodo, S. (2012) “Memaknai Sumpah Pemuda di Era Reformasi,” HUMANIKA, vol. 16, no. 9. p 1-12. https://doi.org/10.14710/humanika.16.9.

Klikmu.co, Sempat Tertunda 6 Tahun, Akhirnya Kasman Singodimedjo Tahun Ini Ditetapkan Jadi Pahlawan Nasional, https://klikmu.co/sempat-tertunda-6-tahun-akhirnya-kasman-singodimedjo-tahun-ini-ditetapkan-jadi-pahlawan-nasional/(diakses 26 oktober 2020).

Dibuat Oleh : Nenden Fauziah, S.Pd.,M.Si.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.