Artikel

Sikap Menghadapi Si Kecil yang Meresahkan

Virus merupakan makhluk yang sangat kecil dan tak kasat mata yang sebagian orang percaya bahwa makhluk ini sudah ada sebelum manusia ada. Mikroorganisme ini pertama kali ditemukan oleh seorang ahli kimia agrikultur berkebangsaan Jerman bernama Adolf Eduard Mayer (1843-1942) yang meneliti semacam penyakit yang terdapat pada tembakau dan diberi nama Tobacco Mossaic Virus (TMV).

Virus ini merupakan makhluk lemah dan tak berdaya. Hal ini bisa dibuktikan bahwa dia tidak akan hidup apabila tidak menemukan sel inangnya. Belum lagi jika melihat bagian-bagian yang yang ada dalam sel tubuhnya. Makhluk ini mempunyai bagian tubuh yang paling sederhana dibanding mikroorganisme yang lain, yaitu hanya terdiri dari materi genetik DNA atau RNA yang dibungkus oleh protein atau kapsid, maka sampai ada yang berpikir bahwa virus itu bukan sebagai makhluk hidup. Namun kita bisa merasakan betapa hebatnya makhluk yang tak kasat mata ini.

Sampai hari ini kita masih mendengar dan menyaksikan berita bagaimana makhluk ini merajalela dalam pandemi yang terus meluas. Hampir 40 juta manusia di dunia terinfeksi oleh virus korona, dengan kematian telah menembus 1 juta orang. Semua negara di dunia dibuat resah, bahkan negara adidaya pun seperti Amerika Serikat dibuat tak berdaya.

Pandemi yang berkepanjangan menimbulkan keresahan pada semua orang, sehingga memungkinkan tingkat stress akan lebih meningkat. Dengan demikian, diperlukan sikap yang lebih elegan dalam mengelola keresahan yang dihadapi saat ini.

Lebih dekat dengan Maha Pencipta

Allah SWT menciptakan alam dan segala isinya untuk kebaikan makhluknya dan segala yang diciptakan tidak akan sia-sia. Seperti wabah penyakit yang terjadi akhir-akhir ini pasti menyimpan banyak kebaikan. Pandemi yang semakin meluas dan tidak terkendali membuat manusia semakin sadar bahwa dirinya hanyalah sebagian dari makhluk yang lemah. Kesadaran manusia tersebut dapat membawa dirinya untuk lebih dekat lagi dengan sang Kholik.

Bersikap Tenang

Wabah korona telah berdampak pada berbagai sendi-sendi kehidupan. Dampak yang mulai terasa adalah pada aspek psikologis masyarakat. Namun ada yang unik di Indonesia adalah sikap masyarakat yang terbelah menjadi dua, yaitu sebagian yang menganggap bahwa pandemi ini benar-benar sebuah ancaman bagi kesehatan manusia secara lebih luas di sisi lain ada yang menanggapinya dengan biasa-biasa saja bahkan terkesan menyepelekan. Sikap tenang mungkin merupakan solusi untuk menanggapinya. Sikap ini dapat menurunkan tingkat stress. Inilah yang terpenting, dengan menurunnya tingkat stress maka diharapkan imunitas tubuh akan meningkat sehingga dapat menangkal penyakit covid-19 dengan lebih efektif.

Selalu Optimis

Ketakutan terhadap pandemi yang berkepanjangan mulai menghinggapi sebagian masyarakat sehingga berdampak pada kegairahan untuk menjalani kehidupan. Aktifitas-aktifitas kehidupan yang terganggu semenjak diberlakukannya pembatasan sosial memberikan dampak yang lebih luas. Semua seolah-olah berhenti. Hal inilah yang membuat sikap pesimis sebagian masyarakat semakin meningkat. Padahal kehidupan masih berjalan, hanya ada sebagian yang belum normal. Untuk itu, semangat dalam menjalani kehidupan harus terus dijaga. Pandemi harus dijadikan titik awal kebangkitan kehidupan. Perjalanan masih sangat Panjang…

Dibuat Oleh : Ruchiyat, M.Pd.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button