Pada tanggal 22 Oktober 2020 FDA menyetujui antiviral Veklury (remdesivir) untuk digunakan pada pasien dewasa dan anak-anak berusia 12 tahun keatas dan berat setidaknya 40 kilogram yang membutuhkan rawat inap. Keputusan persetujuan remdesivir sebagai antivirus untuk covid-19 didukung oleh analisis data dari tiga uji klinis acak terkontrol yang mencakup pasien dirumah sakit dengan gejala covid-19 ringan hingga berat. Walaupun demikian nyatanya remdesivir ini belum terbukti meningkatkan kelangsungan hidup dan belum terbukti secara signifikan membantu pasien yang sakit sedang.

Kemunculan remdesivir sebagai obat covid-19 viral setelah digunakan oleh presiden AS Donald Trump. Obat ini awalnya dikembangkan oleh Gilead Sciences, sebuah perusahaan farmasi yang berbasis di AS selama wabah ebola untuk melawan penyakit mematikan itu.Efektifitas remdesivir telah dibuktikan baik secara in vitro dan in vivo pada hewan model terhadap virus pathogen MERS dan SARS, yang merupakan corona virus juga dan strukturnya mirip dengan SARS-CoV-2 yang menyebabkan Covid-19. Remdesivir merupakan analog nukelotida dengan aktivitas antiviral spectrum luas.

Analog nukleotida menunjukan golongan obat yang menghambat trankripsi terbalik (reverse transcription). Transkripsi terbalik, sebagian besar digunakan oleh retrovirus, melibatkan pembentukan untai DNA komplementer (cDNA) menggunakan cetakan RNA. Target kerja dari remsedivir adalah enzim RNA dependent RNA polymerase (RdRp). Remsedivir ini merupakan prodrug, didalam tubuh bertansformasi menjadi suatu molekul aktif yang dikenal sebagai GS-441524. Aktivitas antiviral remsedivir meliputi Ebola virus, MERS-CoV, SARS-CoV dan jenis corona virus lain yaitu: CoV-OC43, CoV-229E dan PDCoV.

Waktu rata-rata pemulihan untuk pasien dengan remdesivir adalah 11 hari. Sementara pasien yang hanya diobati dengan plasebo membutuhkan waktu pemulihan hingga 15 hari. Remdesivir diketahui mesti diberikan secara intravena (metode pemberian obat melalui injeksi atau infus). Informasi penting tentang penggunaan remdesivir untuk mengobati COVID-19 mencakup petunjuk dosis, potensi efek samping dan interaksi obat. Kemungkinan efek samping termasuk: peningkatan kadar enzim hati, yang mungkin merupakan tanda kerusakan hati; dan reaksi alergi, yang mungkin termasuk perubahan tekanan darah dan detak jantung, kadar oksigen darah rendah, demam, sesak napas, mengi, bengkak (misalnya, bibir, sekitar mata, di bawah kulit), ruam, mual, berkeringat atau menggigil.

Referensi

https://www.fda.gov/drugs/drug-safety-and-availability/fdas-approval-veklury-remdesivir-treatment-covid-19-science-safety-and-effectiveness, diakses pada 24/10/2020.

Andri Frediansyah, et al., Clinical Epidemiology and Global Health, http://doi.org/10.1016/j.cegh.2020.07.011

https://farmasetika.com/2020/09/30/5-fakta-covifor-remdesivir-obat-covid-19-yang-disetujui-bpom-di-impor-dari-india/, diakses pada tanggal 24/10/2009.

Dibuat Oleh : Apt. Shendi Suryana, M.Farm.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.