Apa yang terlintas dalam benak Anda saat menyebut kata “plastik”? Mungkin Anda membayangkan kantong belanja, pembungkus makanan, hingga mainan. Ya, plastik memang menjadi benda yang serba guna. Hampir semua benda dipakai sehari-hari menggunakan bahan ini. Tapi bagaimana dengan kain sutra? Atau kertas? Atau lemari pakaian kayu? Berdasarkan sudut pandang ilmu kimia, semua benda tersebut terbuat dari kelas bahan yang sama: Polimer.

Polimer merupakan suatu molekul besar (makromolekul) yang terbentuk dari susunan berulang molekul sederhana yang disebut monomer. Susunan tersebut dapat berbentuk linier atau bercabang. Karena terbentuk dari beberapa monomer, sifat dasar polimer ini ditentukan oleh sifat monomer pembentuknya.

Plastik, sebagai salah satu jenis polimer, juga terbentuk dari susunan berulang monomernya. Biasanya senyawa pembangunnya berupa senyawa hidrokarbon. Contohnya, polyethylene terbentuk dari monomer ethylene. Reaksinya dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Reaksi polimerisasi polyethylene

Selama satu setengah abad terakhir manusia telah belajar bagaimana membuat plastik, polimer sintetik, terkadang menggunakan bahan alami seperti selulosa, tetapi lebih sering menggunakan atom karbon yang berlimpah yang disediakan oleh minyak bumi dan bahan bakar fosil lainnya. Polimer sintetik tersusun dari atom-atom rantai panjang, seringkali lebih panjang daripada yang ditemukan di alam. Panjang rantai ini dan pola penyusunannya, yang membuat polimer bersifat kuat, ringan, dan fleksibel. Dengan kata lain, itulah yang membuat mereka begitu plastis. Sifat ini membuat plastik menjadi sangat berguna, dan sejak awal mula dikembangkan, plastik telah menjadi bagian penting dari kehidupan kita.

Sejarah Perkembangan Plastik

Polimer sintetis pertama ditemukan pada tahun 1869 oleh John Wesley Hyatt, yang terinspirasi oleh tawaran $ 10.000 dari perusahaan di New York untuk siapa saja yang bisa memberikan bahan pengganti gading gajah. Semakin populernya biliar menimbulkan masalah pembantaian gajah liar untuk mendapatkan gading gajah.  Hyatt mencampurkan selulosa nitrat dan kamfor yang dilarutkan dalam alkohol, kemudian menghasilkan plastik yang dinamakan seluloid. Ia menggunakan seluloid sebagai bahan baku untuk membuat bola biliar sebagai pengganti gading gajah. Namun, material seluloid ternyata terlalu rapuh, sehingga bola biliar menjadi rentan pecah ketika saling berbenturan. Di sisi lain, material seluloid dapat diwarnai, diberi corak, dibentuk, dan dibuat untuk meniru bahan alami seperti kulit penyu, tanduk, linen, dan gading. Dengan penemuannya tersebut, revolusi plastik telah dimulai.

Pada tahun 1907, seorang ahli kimia dari New York bernama Leo Baekeland mengombinasikan fenol (C6H5OH) dari hasil pembuangan batu bara, dengan formaldehid (HCOH) membentuk material baru yang diberi nama bakelite. Material baru ini lebih tidak mudah terbakar dibandingkan dengan seluloid, dan bahan bakunya lebih mudah ditemukan. Bakelite tidak hanya menjadi insulator yang baik, tetapi juga tahan lama, tahan panas, dan cocok untuk produksi masal. Dipasarkan sebagai “bahan multiguna”, bakelite dapat dibentuk menjadi berbagai material.

Keberhasilan Hyatt dan Baekeland mendorong beberapa peneliti dalam pengembangan polimer baru. Pada tahun 1920, para peneliti mengembangkan material polistirena, plastik spons yang digunakan sebagai insulator, kemudian polyvinyl chloride, yang bersifat fleksibel dan kuat. Kemudian pada tahun 1933, muncul polyethylene, salah satu plastik yang paling banyak dimanfaatkan sampai saat ini.

Saat Perang Dunia II berkecamuk, industri plastik sintetis mulai berjaya. Adanya tuntutan untuk melestarikan sumber daya alam yang langka, maka produksi alternatif sintetis menjadi prioritas utama. Sepanjang periode Perang Dunia II, penelitian tentang plastik juga terus dilakukan. Pada 1941, polyethylene terephthalate (PET) akhirnya ditemukan. PET merupakan bahan untuk membuat botol minuman bersoda karena cukup kuat menahan dua tekanan atmosfer. Semenjak saat itu, berkembang berbagai macam benda dalam bentuk plastik sebagai bukti betapa serba gunanya bahan-bahan baru yang murah tersebut.

Setiap tahun, kebutuhan akan plastik semakin bertambah. Pada tahun 2000-an, plastik dicetak sebanyak ratusan juta ton. Betapa banyaknya kebutuhan manusia akan plastik sebab hampir semua bahan dan alat yang kita gunakan terbuat dari plastik, misalnya botol, sandal, tas, keranjang, ember, gelas, dan lain-lain. Plastik menjadi primadona karena dianggap awet, kuat, ringan, dan tahan terhadap bakteri dan jamur. Meski bersifat hampir sama dengan logam (awet dan kuat), tetapi logam dianggap terlalu berat dan mahal. Akhirnya hal inilah yang membuat kebutuhan plastik di dunia semakin tinggi. Akan tetapi, keunggulan sifat plastik tersebut menimbulkan masalah ketika plastik menjadi bahan buangan (limbah) yang akan menjadi polusi terhadap lingkungan. Sifatnya yang tidak mudah terbiodegradasi membuat plastik sulit terurai di alam sehingga mulai menghantui akan kerusakan ekosistem di masa mendatang.

Saat ini, penggunaan plastik mulai diwaspadai dalam segi jumlah dan bahayanya. Terlepas dari sejarah plastik itu sendiri, penemuan plastik memang di satu sisi dapat mengubah kehidupan menjadi arah yang lebih baik. Akan tetapi, perlu dipikirkan juga cara untuk meminimalisir dampak negatif dari plastik tersebut. Hal ini mendorong kita semua untuk menciptakan dan mengembangkan berbagai inovasi penelitian untuk mengurangi penggunaan plastik.

Beberapa penemuan inovatif yang dapat mengurangi jumlah limbah plastik.

  1. Mikroba Pengurai Sampah Plastik

Seperti yang kita ketahui, untuk menguraikan plastik diperlukan waktu yang sangat lama (bisa puluhan bahkan ratusan tahun). Maka untuk mengatasi berbagai masalah tersebut, banyak para peneliti di berbagai belahan dunia berusaha untuk mencari bakteri yang dapat mengurai PET atau Polyethylene Terephtalate dengan cepat.

Beberapa tahun berlalu dan kini peneliti dari Jepang telah berhasil menemukan bakteri yang dapat mengurai plastik yang terbuat dari PET. Tim peneliti tersebut dipimpin oleh Dr. Kohei Oda dari Kyoto Institute of Technology dan Dr. Kenji Miyamoto dari Keio University. Berawal dari ditemukannya mikroba yang berevolusi dengan memakan limbah plastik di pembuangan limbah pabrik di Jepang. Bakteri yang dapat menguraikan plastik jenis PET ini ditemukan pada tahun 2016 dan diberi nama Ideonella sakaiensis.

Bakteri Pengurai Plastik Ideonella sakaiensis

  • Peralatan makan dari dedak gandum

Peralatan makan ini diproduksi oleh Bioterm, sebuah perusahaan yang memproduksi peralatan makan biodegradable berbahan dasar dedak gandum.

Peralatan makan produksi Bioterm

Penemuan ini cukup unik karena menggunakan bahan dasar alami sehingga peralatan makan produksi Biotrem dapat terdekomposisi dengan sendirinya dalam kurun waktu 30 hari. Walaupun terbuat dari bahan alami, tapi produk Biotrem tetap memiliki sifat yang kuat, keras, dan juga tahan panas.

  • Ooho!

Ooho! merupakan air minum dalam kemasan namun dengan wadah yang dapat langsung dikonsumsi. Wadah Ooho! mudah terdegrasi dan aman untuk dikonsumsi karena terbuat dari ekstrak rumput laut.

Gelembung air yang dapat dimakan, Ooho!

Ooho! terbuat dari bola air yang sebelumnya telah dibekukan lalu diselimuti dengan suatu membran yang terbuat dari sodium alginat dari alga coklat dan kalsium klorida. Wadah Ooho! akan mulai membusuk dan terdegradasi 4 – 6 minggu setelah waktu diproduksi.

  • Sedotan dari rumput liar

Inovasi sedotan ramah lingkungan terbaru dibuat seorang pria Vietnam bernama Tran Minh Tien. Ia mampu mengubah rumput liar menjadi sedotan yang umumnya berbahan plastik.

Sedotan ramah lingkungan dari rumput

Terungkap kalau rumput yang digunakan bukanlah rumput biasa, melainkan jenis spesifik yaitu rumput Lepironia articulata. Rumput ini tumbuh di lapangan Mekong Delta di Vietnam. Jenis rumput panjang dengan batang berlubang ini sangat mudah ditemukan karena merupakan tumbuhan liar di lahan basah Vietnam. Meskipun dengan bahan alami, sedotan ini bisa memiliki waktu daya tahan yang cukup lama. Sedotan yang masih segar ini bisa disimpan dalam lemari es sampai dua minggu dan satu minggu pada suhu ruangan.

  • Sedotan lainnya yang nonplastik

Selain sedotan dari rumput, inovasi lainnya juga menghasilkan sedotan pengganti sedotan plastik, diantaranya sedotan dari logam, kaca, jerami, kertas, dan bambu.

Berbagai contoh sedotan nonplastik

  • Sedotan dan cangkir yang dapat dimakan

Inovasi ini diciptakan oleh Loliware. Loliware didirikan pada tahun 2015 oleh Chelsea Briganti dan Leigh Ann Tucker setelah mengetahui fakta bahwa tiap tahun ada sekitar 33 miliar unit cangkir plastik berakhir di tempat penampungan sampah.

Sedotan dan cangkir yang dapat dimakan

Bahan dasar untuk membuat cangkir dan sedotan edible ini berupa rumput laut. Karena bisa dimakan, maka sedotan ini pun diberikan berbagai macam aneka rasa. Tentu saja terobosan ini membuat beberapa cafe dan restoran dapat membantu mengurangi sampah plastik. Selain membantu untuk menjaga lingkungan, hal unik tersebut juga bisa menarik pembeli dengan sedotan yang bisa dimakan.

  • Kantong keresek dari singkong

Untuk mengatasi dampak kantong plastik yang dibuang ke lingkungan, sebuah perusahaan Indonesia bernama Avani telah membuat tas sekali pakai yang sebenarnya terbuat dari Singkong. Tas Bio-Cassava ini dibuat dari pati singkong sehingga dapar hancur dalam waktu 2 bulan.

Kantong keresek berbahan dasar singkong

Demikian beberapa penemuan menarik untuk meminimalkan dampak dari sampah plastik yang meresahkan dunia. Semoga kita semakin sadar dan peduli akan bahaya sampah plastik yang semakin mengkhawatirkan dunia.

Pustaka:

Elsa. (2017). Ooho, Air Minum dalam Kemasan yang Wadahnya Dapat Dimakan. Diakses pada 8 Oktober 2020, dari: https://news.labsatu.com/ooho-air-minum-dalam-kemasan-yang-wadahnya-dapat-dimakan/

Knight, L. 2014. A Brief History of Plastics, Natural and Synthetic. Diakses pada 7 Oktober 2020, dari: https://www.bbc.com/news/magazine-27442625

Noe, R. 2017. This Cassava-Based Plastic Bag Alternative is Biodegradable, Even Edible. Diakses pada 8 Oktober 2020, dari: https://www.core77.com/posts/68988/This-Cassava-Based-Plastic-Bag-Alternative-is-Biodegradable-Even-Edible

Palm, J.G., Reisky, L., Bottcher, D., Muller, H., Michels, E.A.P., Walczak, M.C., Berndt, L., Weiss, M.S., Bornscheuer., U.T., & Weber, G. 2019. Structure of the plastic-degrading Ideonella sakaiensis MHETase bound to a substrate. Nat. Commun 10, 1717.

Rahmawati, A.A.D. 2019. Keren! Ada Sedotan Ramah Lingkungan Berbahan Rumput Liar Vietnam. Diakses pada 8 Oktober 2020, dari: https://food.detik.com/info-kuliner/d-4496488/keren-ada-sedotan-ramah-lingkungan-berbahan-rumput-liar-vietnam

Science History Institute. 2012. History and Future of Plastics. Diakses pada 7 Oktober 2020, dari: https://www.sciencehistory.org/the-history-and-future-of-plastics

Shark Tank. 2020. Loliware-Edible Cup Update. Diakses pada 8 Oktober 2020, dari: https://sharktanktales.com/loliware-shark-tank/

Dibuat Oleh : Riza Apriani, M.Si.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.