Artikel

Obat Vs Asap Rokok

Asap rokok yang dihisap baik oleh si perokok maupun yang terhirup oleh orang lain dapat berdampak pada timbulnya berbagai gangguan kesehatan seperti kanker paru-paru, kanker hidung, kanker payudara, tukak lambung, katarak, gangguan pendengaran dan lain-lain. Akan tetapi, selain berdampak pada berbagai gangguan kesehatan tersebut, asap rokok juga dapat mempengaruhi efektivitas dari suatu obat sehingga dapat mempengaruhi efek dari terapi yang diharapkan.

Asap rokok teridentifikasi mengandung 4.800 komponen kimia yang dapat mempengaruhi obat secara farmakokinetik maupun farmakodinamik. Beberapa komponen kimia rokok mampu menginduksi enzim (seperti polisiklik aromatik hidrokarbon/PAH) dan komponen lainnya dapat bertindak sebagai inhibitor/penghambat enzim (seperti kabon monoksida, hydrogen sianida dan nikotin). Polosiklik aromatik hidrokarbon pada rokok tembakau diketahui mampu menginduksi sitokrom P450 (CYP)1A1, CYP1A2 dan CYP2E1. CYP1A1 paling banyak ditemukan di paru-paru dan plasenta, beberapa bukti menunjukkan kanker paru-paru yang biasa terjadi pada perokok disebabkan karena terjadinya polimerfisme genetik akibat terinduksinya enzim CYP1A1. CYP1A2 adalah enzim hepatik yang bertanggung jawab pada metabolisme dari beberapa obat dan aktivasi beberapa senyawa prokarsinogen. CYP2E1 juga dilaporkan dapat memetabolisme beberapa obat dan mengaktifkan senyawa karsinogen. Nikotin dan gas (seperti formaldehida, oksida nitrat, nitrogen dioksida) dan partikel lain (seperti aldehid, keton) merupakan konstituen asap rokok yang dapat mempengaruhi farmakokinetik dan farmakodinamik dari banyak jenis obat. PAH (polisiklik aromatik hidrokarbon) merupakan salah satu komponen dari asap rokok yang banyak mempengaruhi obat secara farmakokinetik, sedangkan nikotin merupakan salah satu komponen yang dapat mempengaruhi obat secara farmakodinamik.

Sebagian besar interaksi antara obat dan asap rokok yang terjadi merupakan interaksi farmakokinetik, yaitu seperti melalui mekanisme peningkatan metabolisme yang disebabkan oleh terinduksinya enzim. Obat-obat yang mengalami peningkatan metabolisme karena asap rokok diantaranya yaitu teofilin, kafein, takrin, imipramin, propranolol, haloperidol, pentazosin, tizanidin, olanzapine, insulin dan lain-lain. Asap rokok menyebabkan obat-obat tersebut mengalami peningkatan kecepatan eksresi sehingga akan mempengaruhi durasi kerja obat yang akhirnya dapat mempengaruhi efek terapi yang diharapkan.

Selain interaksi farmakokinetik yang telah dijelaskan sebelumnya, interaksi secara farmakodinamik juga dilaporkan dapat terjadi antara obat dengan asap rokok. Asap rokok dapat mengurangi efek analgesik dari beberapa obat golongan β-blockers serta menurunkan efek sedasi dari benzodiazepin dan efek analgesik dari beberapa obat golongan opiod. Hal ini terjadi karena efek stimulan dari senyawa nikotin yang terkandung pada asap rokok.

Perokok muda (umur < 40 tahun) lebih banyak terpengaruh dengan adanya efek asap rokok terhadap metabolisme obat dibandingkan dengan orang yang lebih tua. Efek asap rokok terhadap metabolisme obat dapat bertahan selama berbulan-bulan setelah berhenti merokok. Perubahan-perubahan dalam metabolisme obat yang signifikan secara klinis lebih sering terjadi pada subjek yang merokok lebih dari 20 batang rokok setiap hari, dibandingkan dengan subjek yang merokok lebih sedikit.

Maka dari itu, pemantauan ketat respon klinis terhadap terapi obat dan penyesuaian dosis mungkin diperlukan pada individu yang masih aktif merokok maupun ketika berhenti merokok. Disamping itu, berkaitan dengan adanya fakta bahwa asap rokok dapat mempengaruhi efektivitas suatu obat, sebagai apoteker maupun profesional kesehatan lainnya menanyakan riwayat kebiasaan merokok pasien adalah penting untuk ditanyakan. Hal ini agar terapi obat yang diberikan dapat disesuaikan dan dimaksimalkan sehingga efek terapi yang diharapkan dapat tercapai.

Sumber:
Sukandar EY, Kurniati NF. Dasar-dasar Interaksi Obat. Jakarta: ISFI Penerbitan. 2019. 39-45p.
Tirtosastro S, Murdiyati AS. Kandungan Kimia Tembakau dan Rokok. Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Atsiri.2010;2(1);33-43.
Kemenkes RI. Hidup Sehat Tanpa Rokok. 2017. Dirjen P2PTM. 2017. Available fom: http://p2ptm.kemkes.go.id/uploads/VHcrbkVobjRzUDN3UCs4eUJ0dVBndz09/2017/11/Hidup_Sehat_Tanpa_Rokok.pdf

Dibuat Oleh : Apt. Risa Susanti, M.S.Farm.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button