Berita

Madu Sebagai Nutraceutical, Komoditas Pangan yang Memiliki Peningkatan Nilai Tambah Ekonomi dan Kesehatan

Negara Indonesia dengan jumlah penduduknya yang besar dan kaya akan sumber daya alam yang beragam dan melimpah merupakan roda penggerak perekonomian yang besar dan berpengaruh di wilayah Asia Tenggara dan pengaruhnya juga terasa secara global sejak diberlakukannya perdagangan bebas antar negara-negara di Dunia. Perekonomian Indonesia yang besar dan berpengaruh ini merupakan target pasar yang sangat potensial di ranah domestik dan regional bahkan internasional, namun masih disayangkan produk-produk yang beredar di pasar belum sepenuhnya di dominasi oleh produk-produk komoditas nasional bahkan untuk pasar domestik. Sehingga bisa dikatakan belum banyak komoditas nasional yang berperan penting dalam perekonomian tersebut, apalagi bila ingin dikatakan Komoditas Nasional Unggulan, mungkin masih sedikit sekali.

Produk komoditas nasional sebagai produk unggulan yang dibahas disini adalah suatu komoditas Indonesia dari golongan pangan sekunder yang ingin dikembangkan sebagai suatu komoditas bernilai ekonomi tinggi yang dapat dipasarkan dan diharapkan dapat mencapai target untuk mendominasi pasar minimal pasar domestik. Suatu komoditas pangan yang akan dipasarkan pada kawasan yang lebih luas seperti pasar regional dan global akan dikenai berbagai persyaratan yang utamanya pada pemenuhan mutu tertentu, seperti di Indonesia kita mengenal sistem pengendalian mutu sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI). Pengendalian mutu SNI yang juga mengacu pada acuan mutu global dari suatu komoditas akan membuat mutu komoditas sesuai untuk dipasarkan secara luas ke luar negeri, baik dalam kawasan ASEAN maupun ke kawasan Asia lainnya, Eropa, Afrika dan Amerika. Seiring dengan fakta bahwa persyaratan mutu di negara maju di kawasan Eropa dan Amerika lebih ketat dengan nilai standar pemenuhan mutu yang lebih tinggi, sehingga pengkajian mutu suatu komoditas pangan secara ilmiah yang dilakukan secara sinambung-berkelanjutan akan memperbesar peluang pemenuhan mutu komoditas nasional untuk tingkat global dan peningkatkan peluang pemasarannya.

Pengkajian mutu secara ilmiah erat kaitannya dengan upaya pengkayaan (penambahan/peningkatan) suatu nilai ekonomi komoditas pangan. Nilai mutu produk yang terjamin dan stabil meningkatkan kepercayaan konsumen, lebih jauh lagi, pemenuhan standar mutu juga akan berdampak secara tidak langsung pada faktor pemasaran serta peningkatan penjualan produk. Suatu upaya pengkayaan nilai ekonomi dengan pengkajian mutu secara ilmiah dilakukan dengan penelitian ilmiah, meliputi pengkajian kemanfaatan (khasiat/fungsi/kegunaan khusus) komoditas, pengkajian pada penilaian mutu (termasuk keamanannya), hingga publikasi hasil-hasil kajian/penelitian tersebut ke ranah global termasuk upaya sosialisasi pada masyarakat, keduanya yang merupakan ujung tombak pemasaran sebagai stakeholder penentu arah pasar dan target konsumen.

Upaya pengkajian komoditas dan penilaian mutu melingkupi upaya budidaya dengan serius agar hasil panen suatu komoditas memiliki nilai mutu yang terjamin, serta kegiatan pemenuhan mutu hilir lainnya yang diikutsertakan sepanjang mata rantai distribusi komoditas hingga produk tersebut sampai kepada konsumen, serta kajian kemanfaatan/khasiat/fungsi/kegunaan khusus dari mengkonsumsi pangan tersebut bagi kesehatan dan keafiatan Manusia.

Kegiatan budidaya hingga pemenuhan mutu produk akhir yang diatur secara terintegrasi dan efisien dapat memudahkan kontrol terhadap mutu komoditas dan penjaminan stabilitas mutu komoditas tersebut. Beberapa model kontrol kualitas dapat diterapkan seperti: kontrol paska panen; kontrol distribusi bahan pangan mentah; kontrol pemrosesan pangan olahan mengikuti standar: GMP (CPPB BPOM), Halal, HrACCP, HACCP, dsb.; kontrol pengemasan dan pelabelan; kontrol izin edar, promosi dan daluarsa.

Pada tahapan sosialisasi dan pemasaran produk, peran kajian ilmiah masih diperlukan yang juga merupakan kegiatan hilir pemenuhan dan pengkayaan nilai ekonomi komoditas. Kajian ilmiah pada tahap hilir ini yang dapat dilakukan adalah meliputi kajian potensi komoditas sebagai komoditas unggulan untuk tujuan konsumsi tertentu karena telah terbukti secara ilmiah memiliki kemanfaatan/khasiat/fungsi/kegunaan khusus bagi kesehatan dan keafiatan Manusia, sehingga pemasaran dapat difokuskan pada pangsa pasar dengan peminatan khusus, serta nilai ekonomi produk akan bertambah dengan pencantuman berbagai klaim ilmiah.

Komoditas pangan Indonesia sebagai produk unggulan yang berpotensi untuk tujuan konsumsi sesuai klaim ilmiah salah satunya adalah madu. Madu berpotensi sebagai nutraceutical, suatu pangan fungsional yang telah terbukti memiliki kemanfaatan/khasiat/fungsi biologis dalam tubuh manusia bagi kesehatan dan keafiatan, karena mengandung nutrisi yang dapat digunakan untuk membantu proses penyembuhan bahkan digunakan segabai terapi komplementer. Madu sebagai nutraceutical digunakan sebagai nutrisi untuk pertumbuhan anak dan memperlancar metabolisme tubuh, sebagai antioksidan, membantu kerja enzim pencernaan dan memiliki aktivitas sebagai antibakteri yang sering digunakan untuk infeksi dan radang saluran pernafasan atas dan rongga mulut serta pertolongan pertama pada gejala-gejala ketidaknyamanan saluran cerna. Penggunaan madu yang disebutkan di atas didasarkan atas kegunaan madu yang dipercaya masyarakat secara tradisional dan didukung oleh beberapa penelitian ilmiah yang terus dilakukan untuk menambah khasanah informasi mengenai potensi manfaat dan kegunaan produk madu terutama sebagai komoditas pangan nutraceutical.

Penelitian ilmiah komoditas madu yang terus dilakukan meliputi pengkajian terhadap jenis ragam madu asli Indonesia (meliputi asal daerah, lebah penghasil, sumber nektar madu, pengaruh budidaya, kandungan dan komposisi esensial madu) serta pemenuhan mutu madu-madu tersebut berdasarkan persyaratan SNI Madu yang telah dikeluarkan oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN). Pengetahuan mengenai data dan hasil kajian ilmiah tersebut bermanfaat untuk publikasi ilmiah dan sosialisasi pemanfaatan dan penerapan budidaya maupun tindakan peningkatan nilai ekonomi komoditas madu lainnya terutama pengkayaan komoditas madu untuk menjadi produk pangan nutraceutical.

Dalam hal komoditas madu, yang sering menjadi sorotan adalah perihal keaslian dari produk madu yang beredar di pasaran. Madu dapat dipalsukan dengan berbagai cara diantaranya dengan mencampur komponen-komponen alami dalam madu secara langsung yaitu fruktosa dan glukosa atau dengan memberikan gula pasir (sukrosa) ke dalam madu, sehingga menilai keaslian dan kualitas madu ditentukan berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) “Madu” Nomor 01-3545-2004. Kualitas madu juga ditentukan oleh beberapa hal diantaranya waktu pemanenan madu, kadar air, warna madu, rasa dan aroma madu. Waktu pemanenan madu harus dilakukan pada saat yang tepat, yaitu ketika madu telah matang dan wadah penyimpanan madu dalam sarang lebah mulai tertutup. Cita rasa madu ditentukan oleh zat yang terdapat dalam madu diantaranya glukosa, alkaloid, gula, asam glukonat dan prolin. Rasa dan aroma madu yang paling baik adalah ketika madu baru dipanen dari sarangnya dan sesudahnya senyawa-senyawa yang terdapat dalam madu sedikit demi sedikit akan menguap. Kajian identifikasi keaslian, organoleptis produk dan pemenuhan mutu merupakan hal mutlak yang perlu dilakukan untuk komoditas yang akan diklaim sebagai nutraceutical, selain kajian khasiat/kemanfaatan/fungsi/kegunaan khususnya bagi Kesehatan dan keafiatan Manusia.

Potensi madu sebagai nutraceutical sudah dikenal lama dan popular di negara-negara maju di benua Eropa, Afrika Utara, Timur Tengah, Amerika dan Oseania (Selandia Baru). Budidaya yang telah maju membuat perkembangan kajian ilmiah di sana juga berkembang pesat, sehingga nilai keekonomian madu pada pasar negara-negara maju cukup tinggi. Sebagai salah satu produk nasional yang ingin diunggulkan dan dapat menjadi komoditas dengan nilai keekonomian yang tinggi dan menguasai pasar domestik dan regional, penerapan budidaya terpadu dan kajian ilmiah seperti yang dilakukan oleh negara-negara maju dapat diadaptasi dan dilakukan pula di Indonesia.

Penerapan hasil kajian ilmiah secara terpadu dan terintegrasi sebagai wujud sosialisasi untuk pemenuhan potensi madu sebagai produk komoditas nasional unggulan juga dapat dibarengi dengan kebijakan paten dan/atau pengakuan Hak atas Kekayaan Intelektual. Paten dan/atau pengakuan atas Hak Kekayaan Intelektual yang diperoleh untuk suatu hasil dan produk penelitian ilmiah juga dapat memberikan nilai tambah produk secara ekonomi, serta memacu para peneliti dan praktisi untuk melakukan kajian ilmiah terhadap komoditas-komoditas nasional baik yang telah ramai diteliti dan dibudidayakan sebelumnya atau komoditas-komoditas baru yang sedang dikembangkan seperti produk madu ini.

Created By : Apt. H. Muhammad Nur Abdillah, M.Si.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Butuh Bantuan? Hub. kami