Artikel

Karbon Monoksida: Pembunuh Tersembunyi

Baru-baru ini, ditemukan dua orang tewas di dalam mobil di Pelabuhan Merak, Banten. Polisi menduga keduanya tewas akibat keracunan karbon monoksida karena diamati adanya gumpalan darah berwarna merah kecoklatan. Keduanya diduga berada di dalam mobil dengan keadaaan mesin menyala selama kapal berlayar.
Karbon monoksida (CO), merupakan gas tidak berwarna, tidak berbau, yang menyebabkan lebih dari setengah kematian akibat racun per tahun di seluruh dunia. CO memiliki daya ikat sekitar 250 kali lebih besar terhadap hemoglobin daripada oksigen. Konsekuensinya, CO dalam jumlah yang sedikit saja dapat menyebabkan dampak yang besar dan tragis. Mengapa demikian? Ketika CO masuk ke dalam tubuh kita, CO akan berikatan dengan hemoglobin. Kompleks CO-hemoglobin dikenal sebagai karboksihemoglobin, atau COHb.
Beberapa CO diproduksi melalui proses alami, akan tetapi jumlah CO yang tinggi hanya dihasilkan dari aktivitas manusia. Mesin dan knalpot tungku adalah sumber utama CO, karena CO merupakan produk samping dari pembakaran bahan bakar fosil yang tidak sempurna. Banyak kematian tidak disengaja disebabkan oleh CO yang tidak terdeteksi dalam ruang tertutup, seperti ketika cerobong asap rumah tidak berfungsi atau bocor yang menyebabkan masuknya CO ke dalam rumah. Bahkan, keracunan CO dapat juga terjadi di ruang terbuka, seperti menghirup asap pembuangan generator, mesin traktor, kendaraan rekreasi, atau mesin pemotong rumput.


Jumlah CO di atmosfer tidak berbahaya, dalam rentang 0,05 ppm hingga 3-4 ppm. Pengikatan yang kuat antara CO dengan hemoglobin menyebabkan COHb dapat terakumulasi seiring manusia terpapar pada sumber CO yang rendah. Pada seorang individu yang sehat, setidaknya 1% dari total hemoglobin berada dalam kompleks sebagai COHb. Karena CO adalah produk dari asap rokok, banyak perokok memiliki 3%-8% COHb dari total hemoglobin, dan jumlahnya bisa meningkat hingga 15% pada perokok berat.
Bagaimana efek COHb ini terhadap manusia? Pada jumlah kurang dari 10% dari total hemoglobin, gejalanya jarang teramati. Pada jumlah 15%, individu akan mengalami sakit kepala ringan. Pada jumlah 20%-30%, sakit kepala semakin parah dan diiringi dengan mual, pusing, dan beberapa gangguan visual. Gejala-gejala ini umumnya hilang jika individu tersebut kembali menghirup oksigen. Pada tingkat 30-50%, gejala neurologis menjadi lebih parah, dan pada tingkat 50%, individu akan hilang kesadaran bahkan hingga koma. Kegagalan pernafasan juga kadang terjadi. Jika paparan CO berkelanjutan, beberapa bahaya menjadi permanen. Kematian biasanya terjadi ketika jumlah COHb naik hingga di atas 60%.
Karena tingkat COHb dasar yang lebih tinggi, perokok yang terpapar ke sumber CO gejalanya seringkali meningkat lebih cepat daripada yang bukan perokok. Individu dengan penyakit jantung, paru-paru, atau darah yang mengurangi ketersediaan oksigen ke jaringan juga mungkin mengalami gejala pada paparan CO yang lebih rendah. Bayi memiliki resiko keracunan CO lebih tinggi karena hemoglobin pada bayi memiliki daya ikat yang lebih besar daripada hemoglobin orang dewasa. Beberapa kasus menunjukkan paparan CO mengakibatkan kematian bayi sedangkan ibunya selamat.
Dengan demikian, adanya detektor CO di setiap rumah dapat direkomendasikan. Hal ini merupakan pengukuran yang sederhana dan tidak mahal untuk menghindari kemungkinan terjadinya tragedi.
Sumber:
https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5111008
Nelson, D. dan Cox, M. (2008). Lehninger Principles of Biochemistry 5th Edition. New York: W. H. Freeman and Company.

Created By : Dhini Anisa Rahmasari Kanto, S.Pd.,M.Si.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button