Artikel

Budaya Mengkonsumsi Obat Herbal pada Masa Pandemi COVID-19

Pandemi COVID -19 sampai saat ini belum berakhir, kasus terkonfirmasi makin bertambah dan contact tracing masih terus dilakukan. Sehingga kemungkinan kasus positif akan semakin bertambah, baik kasus positif dengan dan atau tanpa gejala.

            Untuk menghindari penularan COVID-19 terutama dari orang-orang yang tanpa gejala, maka menjalankan protokol kesehatan dalam kehidupan sehari-hari sangat diharuskan. Memakai masker, rajin mencuci tangan/menggunakan hand sanitizer serta selalu menjaga jarak. Selain itu, masyarakat juga sangat dianjurkan mengkonsumsi makanan yang bernutrisi baik dan melakukan pola hidup sehat sebagai upaya meningkatkan daya tahan tubuh terhadap berbagai penyakit.

            Kebiasaan mengkonsumsi obat herbal/jamu merupakan bagian kegiatan pola hidup sehat yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Hal tersebut dapat dilakukan dengan mudah oleh masyarakat terutama di Indonesia karena terdapat banyak tumbuhan obat yang berguna sebagai peningkat sistem imun (imunomodulator). Beberapa tumbuhan yang berguna tersebut diantaranya :

  1. Mengkudu (Morinda citrifolia L.)

Walaupun berbagai bagian tanaman mengkudu telah lama digunakan untuk mengobati berbagai penyakit, penggunaan yang paling umum adalah mencegah dan mengobati kanker. Beberapa penelitian ilmiah membuktikan bahwa jus mengkudu dapat meningkatkan fungsi kekebalan tubuh dan membantu memperbaiki kerusakan sel, tetapi penelitian-penelitian lebih lanjut sangat dibutuhkan untuk membuktikan penemuan-penemuan tersebut.

Hirazumi et al., 1996 melaporkan bahwa jus buah mengkudu berfungsi sebagai imunomodulator yang mempunyai efek antikanker. Hal itu disebabkan jus mengkudu mengandung substansi kaya polisakarida yang menghambat pertumbuhan tumor. Kemungkinan jus mengkudu dapat menekan pertumbuhan tumor melalui aktivasi sistem kekebalan pada inang (Hirazumi dan Furuzawa 1999). Ekstrak buah mengkudu juga mengandung xeronin dan proxeronin yang berfungsi menormalkan fungsi sel yang rusak, sehingga daya tahan tubuh meningkat. Xeronin juga berperan mengaktifkan kelenjar tiroid dan timus yang berfungsi dalam kekebalan tubuh.   

Hasil penelitian Wang et al., 2002 melaporkan bahwa, terjadi pembesaran kelenjar timus dengan berat 1,7 kali hewan kontrol pada hewan yang diperlakukan dengan jus mengkudu, pada hari ke-tujuh setelah meminum air yang mengandung 10% jus mengkudu. Timus merupakan organ penting dalam tubuh yang membentuk sel T, yang terlibat dalam proses fungsi imun dengan menstimulasi pertumbuhan thymus, dan selanjutnya mempengaruhi aktivitas antipenuaan dan anti kanker, dan melindungi tubuh dari penyakit degeneratif lainnya (Wang et al., 2002).

  • Jahe (Zingiber officinale Rosc.)

Hasil penelitian Zakaria et al., 1999 menunjukkan bahwa ekstrak jahe dapat meningkatkan daya tahan tubuh yang direfleksikan dalam sistem kekebalan yaitu memberikan respon kekebalan inang terhadap mikroba pangan yang masuk ke dalam tubuh. Hal itu disebabkan ekstrak jahe dapat memacu proliferasi limfosit dan menekan limfosit yang mati (Zakaria et al., 1996) serta meningkatkan aktifitas fagositas makrofag (Zakaria dan Rajab, 1999). Selain itu jahe mampu menaikkan aktivitas salah satu sel darah putih, yaitu sel ”natural killer” (NK) dalam melisis sel targetnya, yaitu sel tumor dan sel yang terinveksi virus (Zakaria et al.,, 1999).

  • Meniran (Phyllanthus niruri L.)

Dilaporkan bahwa komponen aktif metabolit sekunder dalam meniran adalah flavonoid, lignan, isolignan, dan alkaloid. Komponen yang bersifat imunomodulator adalah dari golongan flavonoid, golongan flanoid mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh hingga mampu menangkal serangan virus, bakteri atau mikroba lainnya.

Thyagarajan (1988) telah berhasil mengisolasi tiga senyawa aktif dari genus Phyllanthus yaitu P. amarus yang mempunyai aktivitas menghambat perkembangbiakan virus hepatitis B, meningkatkan sistem imun dan melindungi hati. Selain itu menurut Maat dalam Tjandrawinata et al., 2005 melaporkan bawa ekstrak P. niruri dapat meningkatkan aktivitas dan fungsi komponen sistem imun baik imunitas humoral maupun selular.

Selanjutnya Tjandrawinata et al., 2005 telah melakukan penelitian uji pra-klinis untuk menguji aktivitas meniran. Uji pra-klinis terhadap tikus dan mencit dilakukan untuk menentukan keamanan dan karakteristik imunomodulasi. Hasil penelitian bahwa ekstrak P. niruri dapat memodulasi sistem imun melalui proliferasi dan aktivasi limfosit T dan B, sekresi beberapa sitokin spesifik seperti interferon-gamma, tumor nekrosis faktor-alpha dan beberapa interleukin, aktivasi sistem komplemen, aktivasi sel fagositik seperti makrofag, dan monosit.

  • Sambiloto (Androgaphis paniculata)

Komponen aktif dari sambiloto yaitu andrographolide, 14deoxyandrographolide dan 14deoxy-11,12-didehydroandrographolide yang diisolasi dari ekstrak metanol mempunyai efek imunomodulator dan dapat menghambat induksi sel penyebab HIV. Komponen–komponen tersebut meningkatkan proliferasi dan induksi IL-2 limfosit perifer darah manusia (Elfahmi, 2006).

Menurut Puri et al., 1993 bahwa sambiloto dapat merangsang sistem imun tubuh baik berupa respon antigen spesifik maupun respon imun non spesifik untuk kemudian menghasilkan sel fagositosis. Respon antigen spesifik yang dihasilkan akan menyebabkan diproduksinya limfosit dalam jumlah besar terutama limfosit B. Limfosit B akan menghasilkan antibodi yang merupakan plasma glikoprotein yang akan mengikat antigen dan merangsang proses fagositosis (Decker, 2000).

Sumber :

Suhirman S. dan Winarti, C. Prospek dan Fungsi Tanaman Obat Sebagai Imunomodulator. Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Created by : Isye Martiani, M.S.Farm.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button