Semua penyakit berawal dari usus. Demikian yang diungkapkan oleh Hippocrates, bapak kedokkteran modern, lebih dari 2000 tahun yang lalu. Mari kita cermati lebih dalam. Tubuh manusia layaknya planet yang dihuni oleh berbagai mikroorganisme dalam jumlah banyak. Mulai dari sistem pencernaan, sistem pernapasan, sistem ekskresi, kulit dan mata hidup bersama-sama dengan mikroorganisme secara harmonis. Hal ini menciptakan hubungan simbiosis di mana yang satu tidak dapat hidup tanpa yang lainnya. Manusia tidak dapat hidup tanpa adanya mikroorganisme ini yang selalu kita bawa dan ada di dalam tubuh kita ke mana pun kita pergi. Apabila pencernaan kita disterilkan maka manusia tidak akan mampu bertahan hidup.

Koloni mikroba terbesar hidup dalam sistem pencernaan kita. Rata-rata manusia dewasa sehat memiliki 1,5-2 kg bakteri dalam ususnya. Seluruh bakteri ini sangatlah terorganisir dimana terdapat kelompok yang menguasai dan mengontrol kelompok lainnya. Kelompok mikro flora ini dapat kita dikategorikan menjadi 3 jenis yaitu: flora yang bermanfaat atau esensial, flora oportunistik , dan flora transisi. Flora esensial merupakan kelompok terpenting dan berjumlah sangat banyak dalam manusia sehat. Kelompok ini biasanya terdiri dari Bifidobacteria, Lactobacteria, Propionibacteria, E. coli, Peptostreptococci, dan Enterococci; Flora oportunistik mampu menyebabkan berbagai masalah kesehatan apabila jumlahnya tidak terkontrol. Pada manusia sehat biasanya jumlah flora ini sangat terbatas dan terkontrol oleh keberadaan flora esensial; Sedangkan flora transisi berasal dari makanan dan minuman yang sehari-hari kita konsumsi. Apabila usus kita terlindungi oleh flora esensial maka flora transisi akan lewat begitu saja melalui sistem pencernaan kita dan tidak menyebabkan masalah kesehatan.

Lantas apa yang dilakukan oleh seluruh flora tersebut di usus kita?

Sistem pencernaan kita merupakan rute yang panjang sekaligus pintu masuk berbagai racun, mikroorganisme, zat kimia, parasit dan lainnya ke dalam tubuh kita. Lalu bagaimana kita bisa bertahan hidup dengan banyaknya zat asing yang masuk? Alasan utamanya terletak pada lapisan bakteri yang terdapat di sepanjang sistem pencernaan kita. Flora esensial atau bakteri baik ini membuat semacam lapisan pada permukaan epitel usus layaknya gambut pada tanah. Tentu kita ingat bagaimana tanah yang tidak memiliki gambut akan mudah terkikis dan begitu pula dengan dinding usus, tanpa adanya lapisan bakteri akan mudah rusak. Selain itu, bakteri baik ketika bertemu dengan mikroorganisme patogen akan menghasilkan senyawa seperti antibiotik, antivirus, antifungi termasuk interferon, lizocym dan surfactin yang dapat membunuh virus dan bakteri patogen serta bekerja sama dengan sistem imun memberi respon terhadap zat asing. Bakteri baik ini juga memproduksi asam organik yang akan menurunkan pH dinding usus menjadi 4.0-5.0 sehingga bakteri jahat atau mikroba patogen tidak dapat tumbuh.

Mikroba patogen memproduksi banyak toksin berbahaya ditambah dengan senyawa toksin dari minuman dan makanan yang kita konsumsi. Flora usus yang sehat memiliki kemampuan untuk menetralisasi nitrat, senyawa indol, fenol, skatol, ksenobiotik dan banyak senyawa toksik lainnya. Dinding sel bakteri baik mampu menyerap senyawa karsinogenik dan membuatnya tidak aktif. Mereka juga menekan proses hiperplasia di usus yang merupakan awal terjadinya kanker. Apabila bakteri baik di usus rusak dan tidak berfungsi sebagaimana mestinya maka pertahanan diri kita tidak terproteksi dengan baik. Tanpa adanya perlindungan akan memudahkan mikroba asing masuk ke dalam tubuh serta menimbulkan kerusakan dalam sistem pencernaan atau inflamasi kronis pada dinding pencernaan. Jangan lupakan keberadaan flora oportunis yang dapat ikut mengganggu kesehatan apabila tidak terkontrol jumlahnya oleh bakteri baik.

Flora usus yang rusak tidak hanya menjadikan usus tidak terlindungi tapi juga menyebabkan malnutrisi. Flora usus yang normal menyediakan sumber energi utama dan nutrisi bagi sel dalam saluran cerna. Bakteri baik akan akan mencerna makanan yang kita konsumsi lalu mengubahnya menjadi senyawa bernutrisi untuk saluran cerna. Semua orang tentu tahu bahwasanya tujuan utama sistem pencernaan adalah untuk mencerna dan menyerap makanan. Penelitian klinis menunjukkan tanpa adanya flora usus yang sehat maka sistem pencernaan tidak dapat menjalankan fungsi ini secara efisien. Sebagai contoh adalah pencernaan susu dan protein gandum yang mana setelah dicerna oleh lambung akan terurai menjadi struktur seperti morfin yaitu casomorphines dan gluteomorphines (atau gliadinomorphines). Apabila flora usus tidak sehat maka senyawa ini akan terserap begitu saja dan masuk ke dalam aliran darah sehingga menimbulkan gangguan pada fungsi otak dan sistem imun. Contoh lainnya adalah laktosa yaitu zat gula yang terdapat dalam susu. Sebagian besar manusia tidak memiliki enzim laktase yang befungsi untuk mencerna laktosa atau disebut dengan intoleransi laktosa. Bagaimana manusia pada umumnya dapat meminum susu dan baik-baik saja? Jawabannya terdapat pada bakteri di usus mereka. Salah satu bakteri utama pencerna laktoasa adalah E. coli. Bakteri ini terdapat di usus sejak hari pertama seorang bayi dilahirkan. Selain mencerna laktosa, E. coli juga memproduksi vitamin K2, vitamin B1, B2, B6, B12 serta senyawa seperti antibiotik yaitu colicin juga mengontrol jumlah populasi kelompoknya sendiri yang dapat menimbulkan penyakit.

Flora normal tidak hanya membantu menyerap nutrisi dari makanan tapi juga menghasilkan berbagai nutrisi seperti vitamin K2, asam pantotenat, asam folat, thiamin (vitamin B1), riboflavin (vitamin B2), niacin (vitamin B3), pyridoxine (vitamin B6), cyanocobalamin (vitamin B12), berbagai asam amino dan senyawa aktif lainnya. Banyak orang dengan flora usus abnormal mengidap berbagai anemia. Hal ini bukan saja dikarenakan mereka tidak dapat menyerap vitamin dan mineral esensial untuk darah tetapi produksi vitamin di tubuh mereka sendiri pun bermasalah. Selain itu, orang-orang ini biasanya memiliki pertumbuhan bakteri patogen di usus yang menyukai zat besi (Actinomyces spp., Mycobacterium spp., galur patogen E. coli, Corynebacterim spp. dan banyak lainnya). Bakteri ini mengkonsumsi zat besi dari makanan dan menybabkan orang tersebut kekurangan zat besi. Sayangnya, suplemen zat besi justru semakin membuat bakteri ini tumbuh kuat dan tidak menyembuhkan anemia itu sendiri.

Usus yang berfungsi dengan baik dan memiliki flora usus yang sehat merupakan akar dari kesehatan kita. Seperti pohon dengan akar yang lemah tidak akan mampu berkembang.

Sumber:

Campbell-McBride, Natasha. Gut and Psychology Syndrome. 2018. Cambridge. UK.

Created by : Apt. Selvira A. Intan M., M.SFarm.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.